Senin, 26 Oktober 2009

Makanan Penyebab Anak Hiperaktif


Artikel ini kiriman dari Ibu Any Bagwanto yang bersumber dari http://www.ilmupangan.com, 31 Januari 2008)

Minuman bersoda dan makanan berwarna serta makanan yang mengandung zat pengawet seperti sodium benzoate dapat menyebabkan anak menjada hiperaktif. Para peneliti di Inggris melaporkan bahwa bahan aditif (bahan sampuran untuk menambah selera atau rasa pada makanan) dan zat pewarna pada makanan dapat memperburuk perilaku anak usia 3 tahun hingga 9 tahun.

Uji coba yang dilakukan pada lebih dari 300 anak menunjukkan perbedaan signifikan pada perilaku mereka ketika mereka minum minuman sari buah dan mencampurnya dengan makanan berzat pewarna dan pengawet, demikian yang dikatakan Jim Stevenson dan rekan-rekan dari Universitas Southampton.

Penemuan ini menunjukkan dampak yang merugikan tidak hanya terlihat pada anak dengan hiperaktifitas tinggi , tetapi juga dapat dilihat pada kebanyakan anak dan dijumpai pada tingkat kepelikan hiperaktifitas, tulis para peneliti dalam laporan studinya yang dipbulikasikan dalam jurnal medis Lancet.

Stecenson dan timnya yang telah mempelajari dampak dari makanan dengan zat pewarna pada anak-anak selama bertahun tahun, membuat dua kombinasi tes pada sekelompok anak berusia 3 tahun dan sekellompok anak berusia 8 – 9 tahun.

Mereka menambahkan warna

* saga (warna kuning ketika matahari senja) yang diketahui sebagai E110,
* carmoisine atau E122,
* tartrazine atau E 102,
* ponceau 4 R atau E 124,
* bahan pengawet sodium benzoate atau E 211;
* dan warna-warna lain.


Satu campuran diantaranya terdiri dari ramuan yang umumnya diminum oleh anak muda di Inggris sebagai minuman keseharian, kata mereka. Mereka tidak menyatakan secara pasti makanan makan yang mengandung bahan aditif. Kedua campuran tersebut berdampak signifikan pada anak yang lebih tua. Tim Stevenson melaporkan bahwa anak-anak yang berumur 3 tahun paling dipengaruhi oleh campuran yang mirip dengan jumlah konsumsi makanan seusianya.

Implikasi dari hasil ini bagi ketentuan penggunaan zat pengawet dapat menjadi hal yang penting, para peneliti menyimpulkan. Perdebatan yang sedang berlangsung tentang apakah zat pewarna dapat mempengaruhi perilaku anak telah menjadi kontroversi selama puluhan tahun.

Benjamin Feingold, seorang ahli alergi, telah menulis buku-buku berisi argumentasi tidak hanya mengenai pewarna buatan, penyedap rasa dan dampak bahan pengawet pada anak-anak tetapi juga pada campuran natural salicylate yang ditemukan pada beberapa jenis buah dan sayuran.

Tim Stevenson membuat beberapa campuran minuman sari buah dan dengan cermat mengawasi anak-anak setelah meminumnya. Beberapa dari minuman tersebut tidak mengandung zat pewarna. Respon anak-anak tersebut beragam tetapi umumnya kurang bereaksi terhadap alkohol atau minuman keras. Kita telah menemukan dampak bahan pengawet dari makanan dengan aditif (bahan tambahan) pada perilaku anak-anak berumur 3 tahun dan 8 hingga 9 tahun, tulisnya.

Dr. Sue Baic, seorang ahli diet di Universitas Bristol mengatakan : “Ini merupakan studi yang sangat penting dan telah dirancang dengan baik. Ini mendukung apa yang telah lama diketahui para ahli diet, bahwa memberi makan anak dengan makanan olahan, tidak baik bagi kesehatan."

Masalah keracunan makanan sudah langganan di Indonesia. Hampir setiap tahun kasus keracunan selalu ada dan angka kejadiannyapun cukup tinggi. Dan semua bersumber pada pengolahan makanan tidak higienis. Ironisnya makanan tidak higienis banyak dijual di kantin sekolah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ad by panen iklan